Wednesday, November 28, 2018


Asaalam mualaikum Banda Aceh

Untuk menuliskan pengalaman ini saya harus cubit-cubit tangan saya, memastikan ini beneran sudah ya? HAHAH masih ga percaya saja sudah traveling ke Aceh.

Perjalanan ke Banda Aceh ini dimulai dengan melanjutkan penerbangan dari Medan. Banda Aceh ini bisa dijangkau dengan penerbanagn direct dari Jakarta atau Medan atau degan perjalanan darat dengan bus selama 13 jam.

Pilihan untuk mengexplore Banda Aceh kami putuskan setelah selesai dari Sabang, saatkami tiba ituhari Jumat dan bukanlah waktu yang pas karena akan shalat Jumat dan aktifitas penduduk akan berhenti sampai sore tiba.

Oleh bang Raja, tiba di pelabuhan Ule Lheu, kami dijemput untuk segera menuju Museum-museum yang ada di Banda Aceh.

Museum Tsunami
Aceh yang masyhur di jalur perdagangan adalah  tempat bertemunya para saudagar dunia.
Museum Tsunami ini buka setiap hari, memasuki Museum, pertama kali kita akan melewati lorong Tsunami, lengkap dengan suara saat terjadi bencana, dengan gemericik airna. Gelap, basah dan menakutkan buatku saat melewati lorong ini.

Kemudian berlanjut ke Sumur Doa, lengkap dengan ribuan nama -nam koran saat tsunami terjadi. Ya ampun sedihnya, semoga para korban beristirahat dengan tenang.

Ada juga ruang display, beberapa ruang display yang menggambarkan saat tsunami terjadi. Proses terjadinya tsunami saat gempa di lautan, hingga hilangnya pesisir pantai di sekitar Banda Aceh. Tsunami tahun 2004 itu memang maha dahsyat. Tidak hanya di Aceh, Indonesia saja yang terkena dampaknya, sampai ke Srilangka Thailand dll.


Kapal PLTD Apung

Kapal Baja dengan berat luarbiasa bisa terseret tsunami 3 km sampai ke tengah kota. Wahhhh gilaaaa memang. Sekarang Kapal PLTD ini sekarang berisi berbagai alat peraga tsunami. Multimedia yang beragam menampilkan tentang tsunami dan penjelasan tentang kapal baja ini.

Kapal di atas Rumah Lampulo
" Dulu dek, saat tsunami berlangsung, ada banyak kapal yang sampai ke atap-atap rumah warga, tapi hanya kapal satu ini punya nilai historis karena menyelamatkan 59 orang dari terjangan tsunami termasuk pemilik rumah" cerita bang Raja ... OMG :(((((((


Mesjid Baiturahman

Mesjid Baiturahman kebanggaan masyarakat Aceh yang menjadi saksi bisu saat bencana tsunami. Mesjid ini berdiri kokoh saat bencana terjadi. Masih ingat video di YOutube, saat tsunami, semuanya hanyut terseret air,


Masjid Lampuuk
Masjid yang berjarak sekitar 15 km dari pusat kota Banda Aceh, juga menjadi masjid yang bertahan dari ganasnya tsunami 2004 silam.


Pantai Lampuuk
Pantai berpasir putih yang kami kunjungin menjadi penutup perjalanan mengelilingi kota Banda Aceh. Kami datang saat laut mulai pasang dan ombaknya lumayan. Jadi hanya bisa bermain di psir pantai saja.

Woaaaoaaa .. tebing batunya sangat kerennn! Tentu saja tidak lupa untuk ambil beberapa shoot di sini hehhehehe :D.






Post a Comment: